Laman

Kamis, 06 Desember 2012

PELATIHAN PEMBUATAN PUPUK ORGANIK



USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

PELATIHAN PEMBUATAN PUPUK ORGANIK DARI AMPAS TAHU SEBAGAI UPAYA PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI TAHU DI DESA MADUGONDO

BIDANG KEGIATAN:
PKM PENGABDIAN MASYARAKAT

Disusun oleh:

Etik Liswahyuningsih             10303241019              Angkatan 2010
Andang Ulfiyatul Khotimah   10303241004              Angkatan 2010
DyahTitikFebriana                  10303241007              Angkatan 2010
Lisa Dwiana                            10303241009              Angkatan 2010
Dwi Ana Rizki                        09312244017              Angkatan 2009


UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
2011
A.    Judul Program
Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik dari Ampas Tahu sebagai Upaya Pengelolaan Limbah Industri Tahu di Desa Madugondo

B.     Latar Belakang Masalah
Sektor pertanian dianggap menjadi salah satu sektor kehidupan masyarakat yang penting karena menunjang pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat. Seiring dengan adanya revitalisasi pada sektor pertanian ini, maka pupuk menjadi salah satu kebutuhan pokok yang diperlukan oleh petani-petani Indonesia.
Permasalahan yang dihadapi pemerintah Indonesia adalah keterbatasan bahan baku beberapa jenis pupuk di Indonesia yang masih diimpor dari luar negeri. Selain itu, bahan baku yang masih diimpor dari luar negeri tersebut membuat harga produksi pupuk menjadi tinggi dan mahal.
Salah satu jenis pupuk yang dibutuhkan adalah pupuk organik. Pupuk organik adalah pupuk yang dibuat dari bahan-bahan sintesis atau bahan alam.. Selain itu, pada pupuk organik kandungan senyawa organiknya lebih banyak daripada  unsur haranya, pupuk organik juga mampu meningkatkan kesuburan kimia dan fisik tanah. Disamping banyaknya kandungan unsur hara alami dalam pupuk organik, faktor keamanan kandungan hara yang alami lebih aman untuk dikonsumsi dan dimetabolisme oleh tubuh.

Kreativitas Mahasiswa

Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk belajar dan meperoleh IPK yang baik. ada banyak hal yang dapat dilakukan selagi masih mengenakan jaket almamater ini. sebut saja mulai dari organisasi, kegiatan sosial sampai pada pengabdian kepada masyarakat. Mengingat mahasiswa mempunyai tanggngjawab moral terhadap masyarakat sekitar dalam pemberdayaan dan pembangunan, lahan belajar mahasiswa juga tidak terlepas hanya di dalam kampus. Masyarakat adalah universitas kehidupan, tempat paling ssuai untuk belajar menjadi bagian dari masyarakat yang berpendidikan dan berbudi pekerti luhur.
Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan mnegembangkan kreativitas melalui program-program yang bermanfaat untuk masyarakat.
Sebuah program pemberdayaan petani telah dilakukan oleh beberapa mahasiswa jurusan Kimia Universitas Negeri Yogyakarta guna memanfaatkan limbah ampas tahu menjadi ppupuk yang bermanfaat bagi petani.
Banyak hal yang diperoleh dalam proses melaksanakan program tersebut, tidak hanya menambah ilmu tentang bagaimana membuat pupuk, bagaimana mengaplikasikan pengetahuan-pengetahuan yang berkaitan dengan kimia dalam mengolah limbah tetapi juga belajar bagaimana menjadi masyarakat yang baik, bersahaja dan senantiasa menghargai semua proses dalam menghaapi kehidpan. :)
Berikut adalah beberapa dokumentasi pelaksanaan program kreativitas mahasiswa dalam melaksanakan pengapdian di masyarakat Dusun Madugondo Sitimulyo Piyungan Bantul.

 Kegiatan saat seminar dan demonstrasi bagaimana mengolah limbah ampas tahu menjadi pupuk.

Selasa, 04 Desember 2012

Paul Sabatier


Paul Sabatier dilahirkan di Carcasonne di Perancis Utara pada tanggal 5 November 1854. Ia dididik di Lycѐe dan disiapkan di Toulouse untuk ujian masuk ke École Polytechnique dan the École Normale Supérieure. Ia diterima di kedua kampus dan memilih kampus terakhir yang ia masuki pada tahun 1874; tiga tahun kemudian ia lulus, yang pertama di kelasnya. Ia mengajar fisik selama setahun di sekolah setempat di Nîmes sebelum pergi ke Collège de France pada tahun 1878 sebagai asisten Berthelot. Ia menerima gelar Dooctor of Science (D.Sc) pada tahun 1880.

Sabatier mengambil kursus fisika di Fakultas sains di Bordeaux hingga Januari 1882, ketika ia menerima  jabatan yang sama di Universitas Toulouse. Ia pun menjadi bertanggung jawab untuk kursus ilmu kimia pada tahun 1883, dan dipilih menjadi profesor Kimia pada tahun 1884, sebuah jabatan yang ia pegang hingga masa pensiun pada tahun 1930. Ia menjadi Dekan Fakultas Sains pada tahun 1905 dan tetap mengajar meski pensiun hingga ia meninggal tahun 1941. Ia sangat percaya pada Toulouse dan menampik banyak tawaran posisi menarik di mana saja, terutama sebagai pengganti Moissan di Sorbonne pada tahun 1908.
Penelitian awal Sabatier terfokus pada termokimia sulfur dan senyawa logam sulfat, yang menjadi judul tesis untuk gelar doktornya, dan di Toulouse, ia melanjutkan penelitian kimia fisikanya pada sulfida, klorida, khromat, dan senyawa tembaga. Ia juga mempelajari oksida nitrogen dan asam nitrosodisulfonat dan garamnya, dan melaksanakan penelitian mendasar tentang koefisien partisi dan spektrum absorpsi.

CINTA TERLARANG ELEKTRON

Elektron duduk termenung, sesekali ia kayuhkan kedua kakinya agar ayunan bergerak perlahan. Ayunan yang sering disebut orbital merupakan tempat yang paling Elektron sukai. Jadi siapapun orang yang ingin menemukannya langsung saja menuju orbital. Walau demikian, tidaklah mudah untuk bertemu Elektron di sana. Tapi setidaknya orbitallah tempat kemungkinan

Praktikum oh Praktikum

Baju putih kegedean
Entahlah apa yang akan kulakukan
Tapi harus kukemas dengan rapi
Demi keselamatan,, katanya...
lelah,apa yang harus diawali sedang akhir dari semua ini masih samar
semua tertulis tanpa ada jeda untuk menunggu, cepat dan pasti
ini hidup, menjalani cerita-cerita dalam diktat
menjadi kacung yang tak mengerti awal dan akhir....
cara kerja
Sakit hati ini, lara hati ini..
sekian lama menantimu, semua sia-sia tanpa sisa
Sampai usai tak ada hasilnya
Tersendat tangan ini menuliskan angka 0% itu.....

Strategi Pembelajaran Kimia Inovatif

137931_anak-bersekolah_663_382

ARTIKEL STRATEGI PEMBELAJARAN KIMIA INOVATIF
MODUL BERBASIS INKUIRI SEBAGAI INOVASI MEDIA PEMBELAJARAN KIMIA MENGGUNAKAN STARTEGI PENDEKATAN COOPERATIVE LEARNING
Disusun Oleh :
Nama    :  Lisa Dwiana
NIM        :  10303241009
Kelas    :  Pendidikan Kimia Subsidi
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2012
MODUL BERBASIS INKUIRI SEBAGAI INOVASI MEDIA PEMBELAJARAN KIMIA MENGGUNAKAN STARTEGI PENDEKATAN COOPERATIVE LEARNING
Oleh : Lisa Dwiana*
I.    PENDAHULUAN
Kebanggaan seorang guru adalah ketika siswa didiknya dapat mengerti apa yang disampaikan dan diajarkan oleh guru selama proses pembelajaran. Pencapaian indikator melalui berbagai evaluasi sebagai salah satu cara yang dilakukan guna mengetahui sampai sejauh mana materi yang telah diberikan dapat diterima oleh siswa. Paradigma tersebut berkembang mendominasi hampir di seluruh proses pembelajaran yang ada di berbagai instansi pendididkan saat ini.

Guru hanya berorientasi pada pemberian materi kepada siswa serta penguasaan siswa untuk dapat mengerti pelajaran tanpa ada proses atau makna yang berarti selama proses pembelajaran. Timbal baliknya guru hanya akan melihat dari satu aspek saja yaitu dengan melihat dan mengukur nilai ulangan siswa. Proses tersebut terus berlangsung dan diterapkan tanpa memperhatikan dampak yang terjadi pada siswa didik sebagai obyek pendididkan. Proses yang hanya beroriantasi pada pencapaian nilai ulangan tanpa memeperhatikan bagaimana proses pembelajaran berlangsung dan bermakna bagi siswa hanya akan menjadi beban dan cenderung membosankan untuk siswa didik tersebut.
Proses pembelajaran demikian tentu berseberangan dengan hakikat dari fungsi pendidikan yang bertujuan memanusiakan manusia untuk seluruh aspek kehidupan yang dimilikinya tidak terbatas hanya berupa ilmu pengetahuan yang dimaknai sebagai proses menghafal saja (Agus, 2009; ix).
Aktivitas belajar yang banyak terjadi saat ini menjadikan materi pelajaran dan peserta didik yang mempelajarinya sangat terpisah jauh tanpa ada hubungan yang memberi makna. Siswa hanya sekedar menghafal berbagai materi pelajaran yang diberikan guru begitu saja tanpa ada pemaknaan yang berarti. Tidak adanya makna yang mengaitkan antara siswa dengan materi pelajaran yang dipelajari menjadi penyebab proses belajar cenderung membosankan bahkan menjadi beban untuk beberapa peserta didik.

Kurikulum : Indonesia dan Korea Selatan dalam Mata Pelajaran Kimia

KURIKULUM KOREA SELATAN
Sampai saat ini, kurikulum di Korea Selatan sudah mengalami revisi sebanyak lima kali sampai versi keenam. Tujuan dari kurikulum versi keenam ini  adalah untuk menghasilkan output yang:
1) sehat,
2) independen,
3) kreatif, dan
4) orang yang bermoral.
Prinsip-prinsip untuk penyusunan versi keenam adalah:
1) desentralisasi pengambilan keputusan tentang kurikulum tersebut;
2) keragaman struktur kurikulum;
3) kecukupan isi kurikulum, dan
4) efisiensi dalam pengelolaan kurikulum