Laman

Selasa, 04 Desember 2012

Strategi Pembelajaran Kimia Inovatif

137931_anak-bersekolah_663_382

ARTIKEL STRATEGI PEMBELAJARAN KIMIA INOVATIF
MODUL BERBASIS INKUIRI SEBAGAI INOVASI MEDIA PEMBELAJARAN KIMIA MENGGUNAKAN STARTEGI PENDEKATAN COOPERATIVE LEARNING
Disusun Oleh :
Nama    :  Lisa Dwiana
NIM        :  10303241009
Kelas    :  Pendidikan Kimia Subsidi
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2012
MODUL BERBASIS INKUIRI SEBAGAI INOVASI MEDIA PEMBELAJARAN KIMIA MENGGUNAKAN STARTEGI PENDEKATAN COOPERATIVE LEARNING
Oleh : Lisa Dwiana*
I.    PENDAHULUAN
Kebanggaan seorang guru adalah ketika siswa didiknya dapat mengerti apa yang disampaikan dan diajarkan oleh guru selama proses pembelajaran. Pencapaian indikator melalui berbagai evaluasi sebagai salah satu cara yang dilakukan guna mengetahui sampai sejauh mana materi yang telah diberikan dapat diterima oleh siswa. Paradigma tersebut berkembang mendominasi hampir di seluruh proses pembelajaran yang ada di berbagai instansi pendididkan saat ini.

Guru hanya berorientasi pada pemberian materi kepada siswa serta penguasaan siswa untuk dapat mengerti pelajaran tanpa ada proses atau makna yang berarti selama proses pembelajaran. Timbal baliknya guru hanya akan melihat dari satu aspek saja yaitu dengan melihat dan mengukur nilai ulangan siswa. Proses tersebut terus berlangsung dan diterapkan tanpa memperhatikan dampak yang terjadi pada siswa didik sebagai obyek pendididkan. Proses yang hanya beroriantasi pada pencapaian nilai ulangan tanpa memeperhatikan bagaimana proses pembelajaran berlangsung dan bermakna bagi siswa hanya akan menjadi beban dan cenderung membosankan untuk siswa didik tersebut.
Proses pembelajaran demikian tentu berseberangan dengan hakikat dari fungsi pendidikan yang bertujuan memanusiakan manusia untuk seluruh aspek kehidupan yang dimilikinya tidak terbatas hanya berupa ilmu pengetahuan yang dimaknai sebagai proses menghafal saja (Agus, 2009; ix).
Aktivitas belajar yang banyak terjadi saat ini menjadikan materi pelajaran dan peserta didik yang mempelajarinya sangat terpisah jauh tanpa ada hubungan yang memberi makna. Siswa hanya sekedar menghafal berbagai materi pelajaran yang diberikan guru begitu saja tanpa ada pemaknaan yang berarti. Tidak adanya makna yang mengaitkan antara siswa dengan materi pelajaran yang dipelajari menjadi penyebab proses belajar cenderung membosankan bahkan menjadi beban untuk beberapa peserta didik.

Pembelajaran model konvensional yang masih sering diterapkan menjadikan proses pembelajaran hanya sebatas rekaman memoritas hafalan informasi dari guru kepada siswa tanpa ada konstrukivitas yang diserap oleh siswa akan makna yang terkandung dalam materi pepmbelajaran. Dampak lembih lanjutnya adalah menjadikan siswa tersebut tidak benar-benar belajar dan memahami tetapi hanya tau dan menghafal. Bahan yang disampaikan oleh guru tidak dapat diaplikasikan dan menjadikan siswa didik tidak dapat belajar menjadi lebih baik. Hakikat pendidikan akan hilang jika yang terjadi hanya transfer informasi tanpa ada proses memnididik siswa untuk mengerti, paham dan dapat belajar dari pengalaman untuk mengaktulisasi seluruh potensi diri secara bebas dan terarah.
Proses pendidikan diberikan bukan hanya sekedar untuk proses pendewasaan, sosialisasi dan aktualisasi potensi diri tetapi juga berperan dalam proses mengembangkan karakter yang baik guna menciptakan manusia-manusia bermartabat, berkarakter serta berguna untuk kehidupan sosial masyarakat lainya (Tilaar, 2002: xxxix dalam Rahmad, 2011: 1)
Proses pembelajaran yang hanya menekankan pada penilaian kognitif cenderung membuat siswa didik melupakan pengembangan afektif dan psikomotornya. Pendidikan dalam proses pembelajaran seharusnya mampu memanusiakan manusia dengan mengoptimalkan segala aspek dasar manusia sebagai makhluk sosial sekaligus individu.
Proses pendidikan yang berpusat pada guru akan melupakan pentingnya proses interaksi sosial antar sesama siswa dalam bekerjasama dan belajar. Sesuai perkembangan berbagai teori belajar dan penerapannya dalam proses pembelajaran saat ini, pembelajaran di kelas mulai dipusatkan kepada siswa didik sebagai objek sekaligus subjek pelaku pendidikan. Guru diposisikan sebagai fasilitator dan pendorong terjadinya proses yang sehat dan tepat guna mencapai tujuan belajar.
Mata pelajaran kimia cenderung dianggap mata pelajaran yang sulit dan menjadi beban belajar oleh banyak siswa. Hal tersebut terjadi sebagai akibat proses belajar yang terjadi hanya berupa transfer informasi dari guru kepada murid dengan guru sebagai satu-satunya sumber belajar. Kimia sebagai mata pelajaran eksak bidang ilmu alam sebenarnya pelajaran yang dapat dipelajari dengan menyenangkan jika siswa dapat berinteraksi langsung dengan materi-materi yang dipelajari. Guru dapat melibatkan banyak aktivitas yang menimbulkan keingintahuan siswa tentang materi pelajaran sehingga secara tidak langsung siswa akan mempelajari dengan seksama mata pelajaran tersebut.
Permasalahan yang terjadi adalah bagaimana membuat belajar kimia menjadi menyenangkan dan mampu menumbuhkan niat serta keingintahuan siswa untuk mau belajar dan menemukan konsep materi pelajaran secara mandiri sehingga lebih bermakna. Banyak cara dan inovasi mulai dikembangkan oleh berbagai pihak untuk mulai mengubah arah proses pembelajaran yang sebelumnya berpusat pada guru menjadi berpusat sepenuhnya kepada siswa.
Saat ini mulai banyak dikembangkan berbagai inovasi dalam menciptakan proses pembelajaran untuk menuju pendidikan yang berkualitas, humanis, organis, dinamis, dan konstruktiv. Salah satu produk pengembangan proses pembelajaran tersebut adalah pembelajaran aktiv, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan atau PAIKEM. Salah satu penerapan PAIKEM adalah adanya proses pembelajaran cooperative learning.
Cooperative learning adalah salah satu metode pembelajaran yang menekankan proses interaksi antar sesama siswa dalam memecahkan masalah dalam pembelajaran secara berkelompok. Woods and Chen dalam Yoppy (2011:5) menyatakan bahwa cooperative learning is an instructional in which students work together toward a common goal”.   Menurut Kasturiarachi dalam Yoppy (2011:5) ada 3 aspek penting yang harus diperhatikan dalam proses pembelajaran cooperative learning yaitu : 1. Mengadopsi pembelajaran yang aktif untuk lingkungan belajar yang interaktif.
2. Menyiapkan proyek yang jelas dan terpadu untuk tiap-tiap kelompok siswa dan 3. Proyek atau tugas yang diberikan harus kolaboratif sehingga membuat siswa dapat bekerja lebih baik.
Anita Lie dalam agus (2009: 57) menyebutkan bahwa pembelajaran cooperative learning berlandaskan falsafah manusia sebagai makhluk sosial atau homo homini socius. Hal ini tebtu dapat mengembalikan hakikat belajar dalam pendidiakan untuk menjadikan manusia sebagai manusia sepenuhnya. Mengembalikan dan mengembangkan sifat sosial antar siswa didik. As’ari dalam Mega (2009:2) menjelaskan bahwa dalam cooperative learning siswa tidak hanya dituntut secara individual untuk dapat mengalahkan temannya tetapi juga dituntut untuk dapat bekerja sama dan bertanggungjawab untuk kebarhasialan kelompok mereka. Peran diskusi dan bekerja kelompok terbukti dapat membantu siswa lebih memahami pelajaran karena siswa cenderung lebih leluasa saat bekerja dan belajar bersama-sama teman sebayanya.
Dalam 3 aspek penting yang harus diperhatikan pada proses pembelajaran cooperative learning guru harus dapat memberikan proyek yang terkonsep jelas pada setiap kelompok sehingga menimbulkan suasana belajar yang aktif dan interaktif. Salah satu proses yang dapat dipadukan dalam pembelajaran ini adalah memasukkan prinsip inkuiri dalam penyampaian materi ataupun dalam pemberian tugas. Kimia sebagai mata pelajaran eksak yang dapat dibuktikan secara ilmiah tentu sangat memungkinkan untuk memunculkan rasa keingintahuan secara ilmiah memalalui metode inkuiri sehingga siswa dapat merekonstruksi sendiri berbagai pelajaran yang ia peroleh secara mandiri dengan bimbingan guru, menjadikan proses belajar menjadi lebih bermakna.
Metode inkuri adalah metode belajar yang diawali dengan bertanya tentang suatu masalah dilanjutkan dengan pengamatan dan berbagai penyelidikan serta pemikiran kritis guna menyelesaiakan masalah yang dihadapi. Nurhadi dalam Florentina (2009:2) menyatakan bahwa inkuiri adalah suatu siklus yang terdiri dari pengamatan, bertanya, menganalisis dan merumuskan teori baik perorangan maupun kelompok.
Metode inkuiri yang paling banyak diterapkan dalam proses pembelajaran di kelas adalah metode inkuiri terbimbing. Inkuiri terbimbing memungkinkan
siswa mengenal terlebih dahulu apa yang harus dilakukan dalam belajar secara inkuiri. Guru mulai membiasakan berfikir secara kritis dengan membebaskan pemikiran siswa berkembang tetapi masih dalam batasan masalah yang masih dirumuskan dan dibantu peneyelsaiannya oleh guru. Inkuiri terbimbing (guide inquiry) merupakan langkah awal untuk membiasakan siswa dalam lingkungan belajar inkuiri yang sebenarnya.
Inovasi yang coba diterapkan untuk mendapatkan proses belajar menyenangkan dan bermakna adalah menggabungkan model pembelajaran berbasis cooperative learning dengan media pembelajaran modul yang bersifat inkuri terbimbing. Berbagai strategi pembelajaran sudah banyak berkembang saat ini guna menunjang proses pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan bagi siswa didik sehingga belajar bukan lagi menjadi beban dan membosankan. Salah satu inovasi yang dicoba dikembangkan adalah melalui inovasi dalam membuat media-media pembelajaran interaktif. Modul atau buku pegenggan adalah salah satu contoh media pembelajaran yang banyak digunakan di kelas-kelas untuk mempermudah guru menjelaskan materi secara konseptual dan terorganisir.
Buku pegangan atau modul dapat digunakan sebagai media yang mempermudah siswa dalam menyerap pelajaran yang disapaikan sekaligus sebagai media untuk merenkonstruksi semua hasil belajar secara tertulis. Model inkuiri yang dipilih dapat diterapkan dalam menyusun model modul yang sesuai, yaitu modul yang berbasis inkuiri. Modul berbasis inkuiri tersebut sangat menunjang proses pembelajaran cooperative learning sebab di dalam modul pembelajaran inkuiri tersebut menuntut keaktifan siswa dalam bekerja kelompok sekaligus mandiri.
Pengembangan dan bagaimana peranan modul berbasis inkuiri tersebut akan lebih dijelaskan dan diuraikan pada pembahasan dalam artikel ini. Dalam pembahasan tersebut akan diuraikan tentang pentingnya sebuah media pembelajaran dan peran dari modul atau buku pegangan berbasis inkuiri mempermudah proses pembelajaran kimia sesuai model pembelajaran PAIKEM.
II.    PEMBAHASAN
Dalam menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan dan berkualitas guna mencapai tujuan pembelajaran dibutuhkan metode dan berbagai inovasi dalam membuat strategi pembelajaran yang tepat. Seperti yang telah dijabarkan dalam pendahuluan di atas salah satu inovasi yang terus berkembang adalah inovasi membuat berbagai media pembelajaran yang efektif dan efisien guna mempermudah proses pemnyampaian materi kepada siswa didik.
Media pembelajaran berupa modul atau buku pegangan saat ini banyak berkembang dan dijadikan sebagai salah satu bahan ajar yang digunakan untuk membantu siswa memahami pelajaran secara singkat, ringkas namun terkonsep. Berikut akan diuraikan mengebai inovasi media pembelajaran modul berbasis inkuiri dalam startegi pembelajaran cooperative learning
Peran media pembelajaran
Proses pembelajaran merupakan proses interaktif yang aktif antar semua komponen di dalam kelas. Komunikasi menjadi kunci dari berhasilnya proses belajar mengajar penyampaian materi dari guru untuk sampai secara utuh kepada siswa sebagai objek belajar. Sesuai perkembangan berbagai konsep teori belajar saat ini, komunikasi yang terjalin dalam proses pembelajaran haruslah berjalan timbale balik. Guru harus dapat memperoleh respon dari siswa terhadap apa yang disampaikan atau ditugaskan. Siswa bukan lagi objek pasif yang hanya menerima begitu saja segala informasi yang disampaikan guru di kelas. Agar terjalin komunikasi yang baik dan menunjang proses belajar mengajar diperlukan alat untuk mempermudah penyampaian materi sekaligus sebagai bentuk inovasi agar proses belajar tidak berjalan membosankan.
Media merupakan salah satu alat atau komponen komunikasi yang berfungsi menyampaikan pesan dari komunikator kepada komunikan (Criticos dalam Daryanto, 2010:4). Berdasarkan penjelasan tentang media, maka dalam menunjang terjalinya komunikasi yang baik diperlukan sebuah media yang tepat sehingga dapat mengakomodasi proses yang berjalan. Proses pembelajaran dapat diartikan sebagai proses komunikasi terstruktur dan terbimbing guna mencapai suatu tujuan pembelajaran tertentu. Komunikasi dalam pembelajaran tersebut tidak dipungkiri juga memerlukan media untuk memaksimalkan pencapaian tujuan pembelajaran.
Media pembelajaran memiliki peran penting dalam proses pembelajaran. proses komunikasi yang terjalin antar guru dan siswa akan menimbulkan encoding dan dekoning. Encoding merupakan proses penyampaian informasi melalui symbol-simbol komunikasi baik secara verbal maupun non verbal sedangkan decoding adalah penafsiran dan penagkapan maksud dari informasi yang disampaikan oleh komunikator (Daryanto, 2010:5).
Terkadang dalam proses pembelajaran, terjadi kegagalan dalam decoding oleh siswa dikarenakan berbagai hal, sehingga informasi atau pesan gagal diterima dengan baik oleh siswa. Untuk meminimalkan kegagalan decoding diperlukan media yang informative dan dapat mewakili secara konkrit pesan yang disampaikan. Media pembelajaran akhirnya menjadi alat pendukung yang sangat baik dalam proses pembelajaran agar tidak terjadi miss konsepsi sekaligus menjadikan proses belajar menjadi lebih menyenangkan.
Macam dan jenis dari media pembelajaran sendiri jumlahnya sangat banyak dan bervariasi serta. Pemilihan media yang tepat harus disesuaikan dengan materi dan keadaan kelas serta lingkungan belajar. Tidak semua media dapat digunakan di semua tempat untuk semua materi. Sebagai seorang pengajar dan pendidik, guru harus dapat memilih media pembelajaran apasajakah yang harus digunakan guna menunjang proses pembelajaran yang berkualitas.
Buku peganggan (modul) sebagai media pembelajaran inetraktive
Buku pegangan atau modul merupakan salah satu contoh media pembelajaran yang berbentuk media cetak. Modul juga sering disebut sebagai media pengajaran berprogram sebab satu modul dalam satu materi tertentu terdapat berbagai macam program pembelajaran yang meliputi pretest, materi, langkah diskusi, langkah percobaan sampai soal-soal ulangan. Bentuk modul atau buku pegangan hampir sama dengan buku cetak tetapi dikemas lebih ringkas dan ringan hanya memuat konsep-konsep penting materi pelajaran, tidak sedetail buku paket pelajaran.
Modul adalah satuan program pembelajaran yang terkecil, yang dapat dipelajari oleh siswa sendiri secara perseorangan (self instructional) setelah siswa didik menyelesaikan satu satuan dalam modul, selanjutnya siswa tersebut dapat melangkah maju dan mempelajari satuan modul berikutnya. Pembelajaran dengan menggunakan modul, merupakan strategi tertentu dalam menyelenggarakan pembelajaran individual. Modul pembelajaran, sebagaimana yang dikembangkan di Indonesia, merupakan suatu paket bahan pembelajaran (learning materials) yang memuat deskripsi tentang tujuan pembelajaran, lembaran petunjuk guru yang menjelaskan cara mengajar yang efisien, bahan bacaan bagi siswa didik, lembaran kunci jawaban pada lembar kertas kerja siswa, dan alat-alat evaluasi pembelajaran.
Modul atau buku pegangan sebagai media pembelajaran berbentuk cetak bertujuan untuk mempermudah siswa untuk mengerti materi pelajaran. Bentuk modul sebagai media cetak terlihat kurang dapat bersifat interaktif dan komunikatif jika dibandingkan dengan media pembelajaran seperti media berbasis ICT. Media modul atau buku pegangan juga cenderung dinilai terlalu ringkas sehingga pengetahuan siswa menjadi terbatas. Berbagai pandangan tersebut sebenarnya dapat diatasi jika guru yang membuat dan merancang sendiri modul pembelajaran dapat menguasai dengan baik bagaimana membuat modul pembelajaran yang tepat.
Dalam modul atau buku pengangan harus berisi pokok-pokok materi seperti di bawah ini :
1. Judul Modul
Judul ini berisi tentang nama modul dari suatu mata pelajaran tertentu.
2. Petunjuk Umum
Memuat penjelasan tentang langkah-langkah yang akan ditempuh dalam proses belajar mengajar, sebagai berikut :
a. Kompetensi Dasar
b. Pokok bahasan
c. Indikator Pencapaian
d. Referensi
Diisi petunjuk guru tentang buku-buku referensi yang dipergunakan.
e. Strategi Pembelajaran
Menjelaskan pendekatan, metode, langkah yang dipergunakan dalam
proses pembelajaran.
f. Lembar Kegiatan Pembelajaran
Petunjuk bagi siswa untuk memahami langkah-langkah dan
materi pembelajaran
g. Evaluasi
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa setelah
menyelesaikan pembelajaran satu modul. Evaluasi ini diberikan
setelah pembelajaran berakhir (post test) berupa: tes benar-salah
(true-false test), soal isian (essay test), tes pilihan ganda (multiple
choice test), dan tugas-tugas lain.
3. Materi Modul
Berisi penjelasan secara rinci tentang materi yang diberikan atau diajarkan pada setiap pertemuan.
4. Evaluasi Semester
Evaluasi ini terdiri dari tengah dan akhir semester dengan tujuan untuk mengukur kompetensi siswa sesuai materi pelajaran yang diberikan.
Modul atau buku pegangan sebenarnya dapat dijadikan media pembelajaran yang interaktif. Caranya adalah dengan melibatkan siswa didik untuk aktif mengisi dan memahami isi serta berbagai langkah-langkah pembelajaran yang berada di dalam modul. Modul dapat diposisikan sebagai jurnal pribadi siswa didik. Dalam modul tersebut guru memasukan berbagai permasalahan yang akan menimbulkan rasa ingin tahu siswa. Di dalam modul tersebut dilengkapi berbagai langkah diskusi serta langkah-langkah kerja kelompok dalam mempelajari suatu materi.
Model modul seperti dijabarkan di atas dapat memacu aktifitas siswa didik untuk aktif dalam mengerjakan berbagai kegiatan di dalam modul serta di dalam modul tersebut juga dilengkapi lembar pengisian konsep yang terstruktur oleh siswa sendiri, sehingga konsep-konsep yang telah dipelajari dapat direkonstruksi secara nyata dengan menuliskannya di dalam modul. Salah satu keunggulan dari media modul atau buku penganggan ini adalah materi tetap dapat dipelajari oleh siswa setiap saat dan ditulis sendiri oleh siswa sehingga akan lebih bermakna daripada media-media lain yang hanya dapat dilihat saat pemberian materi saja.
Buku peganggan (modul) berbasis inkuiri
Pada bab pendahuluan telah dijelaskan salah satu model pembelajaran yang menarik dan mampu memberikan makna kepada siswa didik terutama untuk mata pelajaran eksak adalah model belajar inkuiri. Model belajar inkuiri tersebut dapat dipermudah dengan menggunakan media pembelajaran yang tepat. Selain media alat peraga dan petunjuk bernagai kegiatan peneylidikan masalah, sagala aspek inkuiri tersebut dapat dipadukan kedalam sebuah modul atau buku pegangan yang interaktif. Proses inkuiri yang dikemas dalam modul tersebut menjadikan memori siswa didik dalam melakukan kegiatan belajar mengajar lebih terstruktur, terorganisasi dan dapat tersimpan dengan baik sehingga dapat dipelajari lagi setiap saat.
Trianto (2010:166) menyatakan bahwa proses inkuiri adalah proses pembelajaran yang melibatkan berbagai aspek secara maksimal seperti kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan secara mandiri penemuannya secara mandiri. Proses inkuiri tersebut akan lebih maksimal saat dilaksanakan secara berkelompok sehingga akan ada bnayak interksi di dalam proses pebelajaran antar sesama siswa, dan akan banyak terjadi transfer informasi maupun pengetahuan, menjadikan proses belajar menjadi lebih mudah dan menyenangkan.
Modul sebagai media pembelajaran adalah pelengkap sekaligus alat untuk menunjang proses inkuiri tersebut berjalan lebih sistematis dan dapat membantu siswa secara langsung untuk memulai pekerjaannya. Modul membantu siswa menemukan permasalahan apa yang harus dikaji, kenapa mereka harus melakukan penyelidikan dan berbagai langkah-lagkah diskusi maupun penyelidikan yang menyenankan dalam mempelajari suatu materi.
Modul yang digunakan untuk lebih menunjang proses inkuiri tentu harus dapat menyesuaikan sehingga perlu dibuat suatu modul yang berbasis inkuiri kaitanya dalam memandu aktifitas siswa di dalam belajar. Modul berbasis inkuiri adalah salah satu bentuk modul yang menekankan proses pencarian konsep secara mandiri oleh siswa dengan berbagai aktifitas. Seperti format modul yang telah diuraikan di atas, modul berisi berbagai hal. Modul berbasis inkuiri lebih menekankan pada lembar kegiatan pembelajaran dan ditambahkan kolom jurnal. Kegiatan pembelajaran dimaksimalklkan oleh guru sebagai pembuat modul untuk mengaktifkan siswa mengisi dan mengikuti segala petunjuk yang dituliskan dalam modul. Kolm jurnal merupakan kolom yang harus diisi mandiri secara individual untuk menghubungkan materi yang dipelajari dengan berbagai kegiatan yang dilakukan selama proses pembelajaran. Pada kolom jurnal tersebut siswa harus mampu merekonstruksi berbagai hal yang telah dipelajari sehingga materi yang telah diperoleh dan dipelajari tidak hilang begitu saja.
Guru adalah fasilitator yang menyediakan dan merancang sendiri modul berbasis inkuiri tersebut. Modul tersebut menyesuaikan dengan materi yang akan dipelajari serta keadaan dan sarana prasarana yang ada di lingkungan sekolah. Guru sebagai perancang dan pembuat modul tersebut menjadikan guru dapat lebih mengetahui dengan baik inti dari materi yang akan disampaikan kepada siswa didik. Guru yang dapat mengetahui dengan baik modul serta menguasai semua isi kegiatan di dalamnya diharapkan dapat maksimal dalam menyampaikan dan membimbing proses pembelajaran di kelas.
Modul berbasis inkuiri memungkinkan siswa untuk bekerja secara berkelompok tetapi tetap mempunyai tanggung jawab pribadi dalam mengisi dan melengkapi modul pribadinya. Guru dalam proses pembelajaran di sini berperan sebagai fasilitator sekaligus pembimbing siswa dalam melakukan proses inkuiri dalam belajar. Model pembelajaran inkuiri dapat berjalan secara efektif      dengan memperhatikan beberapa hal berikut :
1. Guru mengharapkan siswa dapat menemukan secara mendiri jawaban dari permasalahan yang diberikan. Dalam proses pembelajaran tersebut hasil akhir bukanlah tolok ukur keberhasilan pembelajaran tetapi lebih pada proses yang dilakukan siswa dalam pembelajaran.
2. Bentuk pelajaran bukan sekadar fakta yang diberikan begitu saja, tetapi berupa kesimpulan yang memerlukan pembuktian.
3. Guru harus memulai pembelajaran dengan memunculkan rasa ingin tahu kepada siswa
4. Jumlah siswa tidak terlalu banyak sehingga dapat mudah dikendalikan oleh guru.
5. Guru memiliki waktu cukup untuk menggunakan pendekatan yang berpusat pada siswa.
Berbagai hal yang perlu diperhatikan di atas menjadi faktor penting untuk melaksanakan proses pembelajaran inkuiri secara optimal. Peran modul sebagai media pembelajaran yang digunakan adalah sebagai alat siswa untuk memulai, memandu sekaligus merekam segala aktifitas inkuiri yang dilakukan. Langkah-langkah di dalam proses pembelajarn inkuiri meliputi tahap penyajian masalah, tahap pengumpulan dan verifikasi data, melakukan eksperimen, merumuskan penjelasan, mengadakan analisis terhadap proses inkuiri yang telah dilakukan. Keuntungan mengunakan modul berbasis inkuiri adalah untuk beberapa kegiatan yang tidak memungkinkan dilakukan sepenuhnya dengan inkuiri telah disajikan di dalam modul dan siswa tinggal melakukan proses analisis tentu dengan bimbingan guru. Di dalam modul yang digunakan juga telah dilengkapi soal-soal evaluasi yang tentunya sudah disesuaikan oleh guru sebagai perancang modul tersebut.
Buku peganggan (modul) dalam proses pembelajaran cooperative learning
Proses pembelajaran cooperative learning menekankan pada proses belajar secara berkelompok untuk memaksimalkan pencapaian tujuan belajar. Dalam pendahuluan telah dijelaskan bagaimana manfaat proses pembelajaran cooperative learning bagi siswa dalam menerima materi pelajaran. Kerja kelompok yang dijalankan oleh guru dalam proses belajar ini diharapkan mampu membantu dan menyamakan tingkat pemahaman antar siswa yang mudah menerima pelajaran dengan yang tidak mudah menerima pelajaran.
Komunikasi yang terjalin dalam proses inkuiri yang dikemas dalam proses pembelajaran cooperative learning mampu merangsang motivasi siswa untuk belajar dengan baik dan menyamakan informasi, serta berbagi pengalaman sehingga tidak lagi terjadi ketimpangan yang jauh di dalam suatu kelas.
Cooperative learning diberikan untuk menyeimbangkan proses sosial yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung sehingga siswa mampu mengembangkan sikap sosial. Buku pegangan atau modul yang dirancang oleh guru yang berbasis inkuiri harus mampu mengimbangi kebutuhan akan sikap sosial tersebut.
Dalam merancang modul berbasis inkuiri lebih ditekankan pada kerja kelompok tetapi satu modul tetap dipertanggungjawabkan oleh satu siswa. Penggunaan modul berbasis inkuiri diharapkan dapat dijadikan panduan siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran berbasis inkuiri dengan tetap mengetengahkan komunikasi dan interaksi yang baik antar semua komponen di dalam proses pembelajaran menggunakan pendekatan cooperative learning.
III.    KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan pembahasan yang diuraikan dalam artikel ini dapat di simpulkan bahwa salah satu inovasi yang perlu dikembangkan dalam merancang strategi pembelajaran kimia adalah dengan merancang buku pegangan atau modul yang berbasis inkuiri dalam proses pembelajaran cooperative learning.
Saran yang dapat di berikan untuk pembuatan modul berbasis inkuiri tersebut adalah modul atau pegangan sebagai media pembelajaran tetap dapat dikombinasikan menggunakan buku paket lainya. Modul yang digunakan oleh siswa bukan satu-satunya media yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran tetapi semua alat dan media yang memungkinkan digunakan untuk menunjang proses pembelajaran dapat digunakan bersamaan dengan perencanaan yang matang dari guru bersangkutan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. Model Inkuiri Terbimbing, Hasil Belajar Ranah Kognitif dan Gaya Belajar (online)
http://repository.upi.edu/operator/upload/s_fis_0706583_chapter2.pdf (diakses 1 Juni 2012)
Aryadi, Anzaw. LKS, Malas, dan Kemandirian (online)
http://arestlesswriter.blogspot.com/2012/05/lks-malas-dan-kemandirian.html (diakses 1 Juni 2012)
Daryanto. 2010. Media Pembelajaran Perananya sangat Penting dalam Mencapai Tujuan Pembelajaran. Yogyakarta: Gava Media.
Irhamna, Mega. 2009.  Cooperative Learning dengan Model STAD pada Pembelajaran Matematika Kelas VIII SMP Negeri 2 Delitua dalam Jurnal Penelitian Kependidikan. Vol. 19 No. 2  2009
Santosa, Rahmad. 2011. Transformasi Sosial di Pedesaan: Studi Fenomenologis Proses Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat dalam Jurnal Kependidikan
Vol .41 No. 1  2011. Hal. 1-16
Sunyoto. 2006. Efektivitas Penggunaan Modul Pembelajaran Interaktif untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Smk Bidang Keahlian Teknik Mesin
dalam Jurnal PTM.  Vol. 6 No.L 2006
Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Trimurtini. 2009. Implementasi Model Cooperative Learning Berbantuan Komputer dalam Pembelajaran Pendidikan Matematika I pada Mahasiswa Pgsd dalam Jurnal Kependidikan.  Vol. 39 No. 2 2009, Hal. 119-128
Wahyu, Yoppy. P. 2011.  Keefektifan Model Penemuan Terbimbing dan Cooperative Learning pada Pembelajaran Matematika dalam Jurnal Kependidikan
Vol. 41 No. 1 2011, Hal. 37-54
Widihastrini ,Florentina. 2009. Peningkatan Kemampuan Penemuan Sumber Bahan
pada Mata Kuliah Pendidikan Keterampilan melalui Pendekatan Inkuiri dalam Jurnal Kependidikan. Vol. 39 No. 2 2009, Hal. 111-118

Tidak ada komentar:

Digital clock